Notification

×

Iklan

Iklan

Mengenal Manajemen Tusuk Sate

08/02/23 | 22:15 WIB Last Updated 2023-02-09T01:04:52Z
Ilustrasi (sumber: unsplus.com) 

 semestanews.id- Pada prinsipnya manajemen adalah proses pengorganisasian, pengaturan, pengelolaan sampai dengan pengendalian sesuatu untuk mencapai target tertentu. Sederhananya adalah proses atau kegiatan mengatur jalannya sesuatu, sehingga bisa dikatakan bahwa kegiatan manajemen bisa diterapkan pada aktivitas kehidupan kita, apalagi dalam sebuah organisasi.


Dalam ilmu manajemen terdapat bidang-bidang seperti SDM, Keuangan, Operasional, Pemasaran, Administrasi dan lain sebagainya. Tetapi penulis tidak akan meengulas salah satu bidang manajemen diatas. 


Sesuai dengan tema yang diangkat yaitu gaya manajemen dengan mengambil filosofi "tusuk sate". Dalam hal ini tidak ada maksud untuk menyinggung profesi manapun, baik profesi tukang sate atau pembuat tusuk sate.


Manajemen tusuk sate atau manajemen tukang sate memiliki makna bahwa semuanya diserahkan hanya pada satu orang saja. Apabila kita melihat tukang sate secara umum baik dari pengelolaan, proses memasak sampai pemasaran hanya dilakukan oleh orang yang sama. 


Dengan menerapkan manajemen tukang sate ini maka otomatis pembagian-pembagian tugas tidak ada dan kinerja akan melambat. Olehnya, sangat tergantung dari siapa pengolahnya dan tujuan dari usahanya. Tapi yang menjadi catatan pentingnya adalah pertumbuhan dan perkembangan suatu usaha sangat ditentukan oleh sumber daya tersedia. Ini merupakan rahasia umum dalam mengelola bisnis. 


Sehebat apapun pengolahnya apabila tidak didukung oleh hebatnya tim makan akan berakhirdengan kemandegan. 



Nah, manajemen tusuk sate atau tukang sate biasanya digunakan oleh para pedagang kecil, usaha perorangan dan keluarga. Artinya apabila usaha ingin besar, maju dan besar maka akan mencari gaya baru yang lebih dinamis, moderen dan mutakhir. 


Bagi suatu organisasi, manajemen tukang sate atau tusuk sate tidak bisa diterapkan mengingat tujuan dan maksud organisasi yang jelas terstruktur. Sehingga membutuhkan kerja tim guna mencapai tujuan organisasi tersebut.


Penerapan pengorganisasian secara moderen pun harus memperhatikan pola yang cocok dalam suatu organisasi. Sebut saja sistem kepemimpinan kolektif kolegial. 


Berbanding terbalik dengan manajemen tusuk sate, sistem kolektif kolegial dalam penerapannya mengandalkan kerjasama tim. Dengan penggunaan manajemen yang moderen dan sistem kolektif kolegial dalam suatu organisasi maka ini menjadi sangat baik bagi perkembangannya.


Mengingat sistem ini melibatkan para pihak yang berkepentingan untuk mengeluarkan suatu keputusan atau kebijakan melalui mekanisme musyawarah mufakat atau mekanisme lainnya dengan mengedepankan semangat kebersamaan. 


Prinsip yang dianut sistem kepemimpinan kolektif kolegial adalah semua anggota dinyatakan sama dalam setiap pengambilan keputusan begitu juga tanggung jawabnya. Artinya bahwa anggota mempunyai porsi yang sama. 


Terakhir penulis mengingatkan bahwa tulisan ini bukan untuk membandingkan antara manajemen tusuk sate dan sistem kepemimpinan kolektif kolegial. Keduanya memiliki porsi masing-masing dalam bidangnya. Seperti yang diungkap pada tulisan diatas. 


Khusus pada pengelolaan organisasi secara profesional seperti sekolah, lembaga-lembaga, partai, organisasi dan sebagainya tentu membutuhkan manajemen yang dikelola secara moderen. Tidak boleh menggunakan sistem yang hanya tergantung pada satu orang saja. Jika mau organisasi tersebut besar dan maju. 

×
Berita Terbaru Update